DI HYANG PART I; MISTERY OF DIENG

VC9W9119

Hati-hati ada perbaikan jalan bekas longsor

Plang jalan yang berada tak jauh dari pintu masuk kawasan Dataran Tinggi Dieng, telah berhasil membuat kami semua was-was, terutama ketika kata “longsor” diucapkan. Belum lagi, sejak sebulan ini, kawasan Dataran Tinggi Dieng, selalu memenuhi berita-berita di media-media, karena aktifnya salah satu kawah yang memang masih aktif, yang membentang diantara Dieng dengan Banjarnegara. Memang tidak ada korban jiwa, yang disebabkan asap beracun yang dikeluarkan kawah tersebut, namun berita mengenai banyaknya pengungsi, sudah hampir berhasil membuat kami membatalkan perjalanan kami kali ini.

Dieng yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu Di Hyang yang berarti tempat bersemayam para Dewa, menurut beberapa sumber dari internet dataran tinggi dieng ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, serta di bagian utaranya termasuk dalam wilayah Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang Jawa Tengah, terbentuk dari meletusnya Gunung Prahu, yang mana kemudian dari letusan tersebut, menghasilkan gunung-gunung kecil seperti Gunung Pakuwaja, Gunung Alang, Gunung Sikunir dan lain sebagainya. Dataran Tinggi Dieng sendiri, dipercaya menjadi awal peradaban umat Hindu di Pulau Jawa, yang mana ditandai dengan kejayaan Dinasti Sanjaya pada abad ke-8.

Waktu sudah menunjukkan jam setengah satu malam lewat, udara dingin cukup membuat bulu kuduk ini berdiri,¬†maklum, kulit kami sudah sangat tipis akibat disengat panasnya matahari di Kota Semarang.¬†Minimnya pencahayaan dan butanya kami akan medan perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng, membuat laju mobil yang kami kendarai berjalan cukup pelan. “Pelan-pelan bud, di sebelah kanan ada perbaikan jalan tuh“. Ujarku kepada Budi yang sejak berangkat menjadi driver andalan kami. Sudah hampir satu jam rasanya, perjalanan yang telah kami tempuh dari pintu masuk Dataran Tinggi Dieng, namun rasanya mengapa belum ada tanda-tanda kami akan tiba di penginapan.

Tepat pukul satu malam, akhirnya kami pun tiba di kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng, kamipun langsung memasukkan mobil yang kami kendarai ke dalam garasi penginapan yang telah kami sewa sejak tiga hari yang lalu. Dari kelima belas orang yang ikut perjalanan ini, tak ada satupun yang tidak mengatakan pegal, tertutama Budi dan Andi, yang sedari di Semarang tadi, selalu menekan pedal gas, rem dan kopling dua mobil Avanza yang kami naiki. Udara dingin yang sedari perjalanan menuju penginapan sudah menusuk pori-pori kami, membuat kami bergegas membongkar tas kami, dan serentak menggunakan baju-baju penghangat kami.

Kopi Max, kopi.” Ujar Bang Opik dan Pak David kepadaku. Akupun bergegas menuju dapur yang telah disediakan Pak Yanto (pemilik penginapan Lestari yang kami inapi), yang mana telah berjejer air panas dalam dua buah teko dan sekotak kopi hitam serta gulanya. “Ini jagungnya mas, bakarannya uda disiapin di depan rumah, buat bakar-bakar.” Seru Pak Yanto kepadaku, sembari membantuku membawakan dua buah teko dengan sebuah nampannya. Ya, walaupun jagung yang disediakan hanya 15 buah, jadi tidak dikenal dengan istilah nambah, namun itu sudah cukup, terlebih yang kami butuhkan saat itu sebuah kehangatan (Kehangatan dari bara api yah, bukan kehangatan yang lain)

Aku yang saat di Wonosobo tadi, sudah melahap semangkuk bakso, ya walaupun rasanya biasa-biasa aja, tapi sudah cukup mengisi perutku, sehingga ketika dihadapkan dengan sebuah jagung, akupun menjadi tidak terlalu lapar lagi. Akupun memilih untuk keluar dari penginapan, dan menhirup udara dingin dataran tinggi ini. Sesaat aku keluar dari penginapan, Andi, Budi dan Sar pun menyusulku. Tiba-tiba, mata kami, tertuju pada satu arah, yaitu sebuah kentang, yang tergeletak dibiarkan saja diatas sepetak tanah, yang lebih mirip dengan sebuah sawah. Aku yang berujar, bahwa kentang itu milik petani sawah ini, langsung dibantah oleh Sar, “kalo punya orang, masa cuman enam buah sih, uda gitu digeletakin aja lagi.” “Uda ambil Sar.” Ujar Budi kepada Sar. Namun, entah apa karena takut atau memang sudah tidak lapar, Sar pun membatalkan niatnya untuk mengambil kentang tak bertuan itu, pikirku mungkin Sar, teringat dengan film horor Indonesia, yang membawa nama kentang di dalam judulnya.

Akibat kelelahan selama di perjalanan, malam itu tidak perlu waktu lama untuk kami memejamkan mata, selain karena kelelahan, pagi harinya nanti pun, kami akan melakukan tracking mengejar sunrise dari puncak Gunung Sikunir.

IMG-20130511-00245

Sar Sang Penunggu Telaga Warna

Bukan Pak Yanto

Bukan Pak Yanto

 

 

 

 

 

 

 

 

To be continued

About these ads

Posted on June 11, 2013, in ARTIKEL OTENTIK and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers

%d bloggers like this: