GAYA JARI SANG VOORIJDER

216035_468067563214801_1206043349_n

Tettt…tettt…tettt…

Bunyi klakson itu sudah cukup membubat mobil-mobil besar tersebut menyingkir dari jalanan, namun jika mobil-mobil besar tersebut tidak minggir juga, siap-siaplah dengan tangan kiri dari sang rider ini, karena kepakan tangannya akan langsung berada di depan kaca dari mobil tersebut, bukan karena kesal, namun untuk memberitahukan kepada sang pengemudi mobil untuk melambatkan mobilnya, karena kendaraan roda dua yang ada di belakangnya juga akan ikut menyalip mobilnya tersebut.

Perjalanan dari Magelang menuju Semarang pada malam itu memang masih cukup padat, padahal waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Kendaraan berjenis sedan, mini bus, hingga truk masih lalu lalang di jalanan. Beberapa kali pula, truk-truk dan bis-bis bersikap angkuh di jalanan, dengan memakan sisi lain jalan raya, yang seakan-akan ingin mengadu kekuatan dengan kendaraan bermotor. Namun berkat teman kami ini, perjalanan yang sangat menguji adrenalin tersebut, menjadi sedikit tenang.

Aku yang berboncengan dengan Ari, yang sedari tadi selalu setia berada di belakang motor Obi (sang voorijder kami), tiba-tiba terkaget dengan acungan jari telunjuknya ketika hendak menyalip sebuah truk, kebingunganlah aku dengan kode yang dia berikan kepadaku. Dari pertemananku dengan beberapa rider yang sering melakukan touring, aku hanya mengetahui kode kaki kiri yang turun ke bawah, yang kata temanku dahulu, kode itu menandakan bahwa ada jalanan yang berlubang, sehingga kita disuruh untuk meminggir ke arah yang lain, agar terhindar dari lubang tersebut. Namun jari telunjuk ini, haduh aku benar-benar tak tahu maksud Obi tersebut, apalagi si Ari. Pada akhirnya, akibat aku dan Ari yang tidak mengerti kode tersebut, kamipun tidak berhasil menyalip truk tersebut. Saat itu, akupun bertanya pada Ari;

Itu jari telunjuk maksudnya gw disuruh diem kali yah Ri?”

Hah, kok diem deh?

Terus apa dong kalo bukan disuruh diem, inget gak sih lw kalo lagi nonton ftv-ftv gitu, ada cowo yang naro jari telunjuk di bibir cewenya? Nah itukan maksudnya si cewe disuruh diem kan?

Iya juga sih yan. Ohh mungkin kita disuruh diem dulu, maksudnya mungkin kita jangan ikutan nyalip juga kali.

Setelah itu kami sempat berhenti ketika lampu merah sedang menyala di salah satu perempatan di daerah Secang. Dari situ kami tau makna jari telunjuk itu, rupanya si Obi menyuruh kami untuk menempel dia, membuat satu barisan ketika hendak menyalip truk tersebut.

Perjalanan pun kami lanjutkan kembali seteah lampu hijau menyala. Tibalah kami pada uji adrenalin sebenarnya, karena kami memasuki sebuah jalanan yang kanan kirinya dipenuhi dengan hutan-hutan. Hampir setengah jam perjalanan yang telah kami tempuh, untungnya Obi tidak mengeluarkan kode-kode jarinya lagi. Tetapi nyatanya tak lama setelah itu, lagi-lagi aku dan Ari dibingungkan dengan kode baru yang dikeluarkan Obi, kali ini yang diangkat adalah jari telunjuk dengan jari tengah yang berhimpitan.

Aduh apalagi sih ini Ri kodenya si Obi?

Wah kalo ini mah gampang yan, tuh jari telunjuk sama jari tengahnya ngangkat, maksudnya dia mau bilang piss men.

Ahh gila ngawur lw, masa dijalanan dia bilang piss sama gw, salah dia apa coba sama gw.

Percakapanku dengan Ari itupun dibarengi dengan gelak tawa yang cukup keras, yah mungkin sempat membangun hantu-hantu yang bersemayam di hutan Secang. Dalam hatiku, mungkin kalau bukan untuk bilang piss men, mungkin maksudnya si Obi itu ngajakin main suit batu, gunting, kertas kali yah. Sayangnya kami tidak menemui lampu merah lagi, jadilah kami terus bertanya-tanya sepanjang jalan.

Kami yang sudah bosan dengan tebak-tebakan ini, tiba-tiba pada suatu waktu kami menyalip Obi, karena ingin ngejekin dia, aku dan Ari pun serentak mengacungkan kepalan tangan, kearah Obi. Biarlah anak itu bertanya-tanya dalam hati, “ini Rian sama Ari, kesel apa yah sama gw, sampe ngepelin tangan gitu.” Setelah melewati Obi, kamipun kembali tertawa terbahak-bahak. Tak lama kami memimpin jalannya Moto GP, tiba-tiba kami sudah kembali sejajar dengan Obi, dia pun membuka kaca helm nya, dan bertanya kepada kami, apa  maksud kepala tangan tersebut. Karena tidak ingin terbongkar keisengan kami, aku dan Ari pun berlagak seperti tidak mendengar perkataan Obi.

Perjalanan kembali dilanjutkan, lagi-lagi pada satu kesempatan, kami berada di posisi terdepan dari motor Obi. Kemudian saat hendak menyalip sebuah truk, kami kembali membalas kode dari Obi tadi, kali ini kami mengeluarkan jari tengah kami, yang kami arahkan kepada Obi. “Hahaha…fuck you lw bi..” Tawa kami pun kembali pecah di keheningan jalanan Secang.

Kode-kode yang buat kami tertawa itu, tanpa perlu dipungkiri memang sudah sangat membantu kami, hingga kami dapat tiba di Semarang lebih cepat dari biasanya, bukan hanya cepat, kode-kode tersebut, cukup membantu kami, dari ketakutan akan hantu-hantu yang ada di hutan-hutan yang ada di sebelah kanan dan kiri kami.

Thanx Voorijder

Posted on June 6, 2013, in TULISAN BANYAK GAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: