DI HYANG PART II; KEAJAIBAN DARI GUNUNG SIKUNIR

VC9W9119

Ayo Pak dikit lagi sampai” Ajakku pada Pak David, yang sudah terlihat cukup lelah, ketika mendaki jalan setapak menuju puncak Gunung Sikunir. Ya memang Gunung Sikunir ini terlihat sepintas cukup enteng, namun jika melihat dari hitungan angka ketinggiannya, maka ketinggian Gunung Sikunir ini cukup menantang bagi sebagian besar pengunjung yang datang. Bayangkan ketinggian Gunung Sikunir ini memiliki ketinggian 2.350 mdpl (meter dibawah permukaan laut), atau lebih tinggi 21 mdpl dibandingkan Gunung Bromo yang ada di Malang, atau bahkan lebih tinggi 300 mdpl dibandingkan Gunung Ungaran yang kami lewati ketika hendak menuju Dataran Tinggi Dieng ini, dan juga hanya berselisih 800 mdpl lebih rendah dibandingkan dengan Gunung Sindoro yang menjadi pemandangan andalan ketika berada di puncak Gunung Sikunir. Jadi, jangan pernah meremehkan ketinggian Gunung Sikunir, walaupun telah banyak orang yang mampu mencapai puncaknya, namun tetap gunung adalah gunung, yang selalu menyimpan berjuta misteri dan keajaiban.

Mengenai keajaiban itu sendiri, aku menjadi sedikit salut dengan bapak satu orang anak ini, ya bagaimana tidak, sang bapak ini tetap mampu sampai ke puncak Gunung Sikunir dengan gagah berani, padahal Pak David ini sangat jarang berolahraga, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari, berbanding terbalik dengan beberapa bikers yang kami temui disana, yang terlihat keletihan ketika ditengah perjalanannya, padahal notabenennya mereka lebih memiliki fisik yang mumpuni sebagai seorang bikers.

SUMMIT !!! Ya, akhirnya kami sampai juga di Puncak Gunung Sikunir, warna jingga sang mentari pagi atau golden sunrise, walau hanya sejenak mampir, sangat membuat kami mengucapkan kata WOOWW (begitulah kata Bang Opik). Gunung Sindoro dan Sumbing seakan bergantian dengan mentari pagi, menyambut kedatangan kelima belas sahabat ini. Memang, beberapa puluh orang, sudah memenuhi puncak gunung ini, namun semua itu tidak menyurutkan keindahan ciptaan ilahi yang begitu megah ini, akan kebanggan kami atas alam Indonesia yang sungguh menakjubkan. Puas dengan memotret keindahan alam dari Puncak Gunung Sikunir, yang tersimpan dalam memori otak masing-masing kami, kamipun bersiap untuk mengabadikannya dengan kamera digital. It’s time to narsissIt’s time to banci kameraa..

Sialnya baterai kameraku tidak terisi penuh, sehingga wafatlah kameraku. Hanya beberapa foto saja yang dapat kuabadikan. Untungnya, dari kesialan itu, Dias juga membawa kameranya, jadilah kami semua mendadak menjadi banci kamera. Bak seorang model, berbagai macam pose dari berdiri, duduk, jungkir balik hingga loncat ke jurang pun dilakukan (maaf bukan ke jurang Gunung SIkunir, tapi ke jurang hatimu yang terdalam…cieee..), tak hanya itu saja, bahkan background pun berkali-kali kami ubah. Seakan tak peduli dengan orang-orang sekitar, kami semua asyik dengan dunia kami sendiri. Puncak Gunung Sikunir sendiri, memang tidak hanya menawarkan pemandangan mentari pagi, Gunung Sindoro dan Sumbing saja, bahkan hingga jurang dari gunung inipun  walaupun sangat menyeramkan, tetap saja indah terlihat.

Hampir dua jam sudah kami habiskan di puncak gunung ini, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan, saatnya kami harus meninggalkan pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing dengan kabut yang telah menutupinya. Selama perjalanan turun, sesekali kami bernarsis ria, ya walaupun sudah tidak lagi dengan background Gunung Sindoro dan Sumbing, namun tetap, seperti yang sudah saya katakan di atas, pemandangan jurang Gunung Sikunir, juga memberikan hasil foto terbaik bagi para banci-banci kamera ini.

Denger gak Max, kata bapak yang barusan lewat tadi” Tanya Bang Opik kepadaku.

Yang mana bang, gak denger deh aku.” Jawabku yang mendadak menatap serius abang ini.

Tadi itu loh, gila gak kebayang banged, tadi bapak itu bilang, ini uda yang kedua kalinya dia naik turun Sikunir, buat bawa persediaan jualan” Jelas Bang Opik padaku, yang disertai dengan kompak gelengan kepala kami, yang menandakan betapa takjubnya kami dengan sang bapak itu.

Akupun jadi teringat dengan, ketika aku melakukan pendakian ke Gunung Semeru, dimana beberapa kali ketika hendak menuruni gunug yang memiliki puncak tertinggi di Pulau Jawa itu, aku berpapasan dengan beberapa warga lokal yang membawa kayu-kayu yang entah akan diapakan kayu-kayu tersebut. Mungkin Tuhan telah memberikan paru-paru lebih bagi masyarakat yang berada di kaki-kaki gunung, sehingga menaiki gunung, menjadi seakan-akan sedang berjalan di sebuah mall bagi mereka.

Sesampainya kami di parkiran mobil, kami sudah disambut dengan alunan musik khas masyarakat Jawa Tengah, dengan pemandangan persawahan yang berpundak-pundak, dengan hamparan danau (entah danau apa itu namanya) yang ada di depan mata kami, sungguh asrinya pemandangan ini. Namun disela-sela itu, lagi-lagi sang bikers yang sejak naik tadi bertemu kami, kembali membuat kami bangga akan kemampuan fisik kami, yang lebih tangguh dari sang raja jalanan.

_MG_3154 _MG_3193 _MG_3169

_MG_3241 _MG_3254 _MG_3264

To be continued

Posted on June 12, 2013, in ARTIKEL OTENTIK and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. kalau kalian ingin menikmati indahnya puncak gunung, kalian tidak bisa hanya dengan memandanginya dari bawah, kalian harus mendakinya. melewati jalannya yang sempit, berkelok dan terjal. kecuali kalau kalian sudah puas hanya dengan memandangi foto2 nya dari mbah google.
    salam notrip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: