MUKA DUA DARI TOLERANSI BERAGAMA PADA PERAYAAN WAISAK DI CANDI BOROBUDUR

VC9W9706

Waktu telah menunjukkan hampir pukul 18.00 WIB, rintik-rintik hujan pun mulai membasahi stupa-stupa yang tumpuk menumpuk secara rapih dan teratur, namun semua itu tidak mengurangi antusiasme wisatawan-wisatawan yang baru atau telah sejak tadi memenuhi pelataran Candi Borobudur. Pintu masuk sebelah barat candi pun sudah dipenuhi antrian manusia. Dengan satu tujuan utama yang sama, yaitu merayakan Hari Raya Waisak.

Hari Raya Waisak di Indonesia, memang sangat menarik perhatian bagi para pelancong, baik lokal maupun mancanegara. Salah satu kegiatan yang paling dinati para pelancong, adalah saat dimana ratusan hingga ribuan lampion diterbangkan ke langit, setelah dilaksanakannya ritual Pradaksina atau mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Sungguh mempesona sekali jika kita memiliki kesempatan untuk melihat penerbangan lampion tersebut.

Malam mulai menunjukkan pukul 20.00 WIB, hujan semakin lebat membasahi tubuh umat Buddha dan wisatawan yang sejak sore tadi menanti perayaan Waisak tersebut dimulai, tak lama kemudian terdengar sebuah pemberitahuan bahwa perayaan akan sedikit tertunda, dikarenakan keterlambatan datangnya para tamu undangan seperti Menteri Agama Republik Indonesia. Seketika pemberitahuan tersebut mendapat sorakan negatif dari para pengunjung yang berada disana. Hujan yang semakin lebat tersebut, juga membuat sebagian pengunjung yang datang, mulai mencari tempat untuk berteduh. Tidak lama dari pemberitahuan tersebut, tamu undangan mulai datang, namun bukannya mendapat sambutan hangat dari pengunjung yang sejak tadi menunggu, lagi-lagi sambutan yang tidak mengenakkan yang terdengar. Hujan pun seakan tidak mau untuk menghilang dari langit Candi Borobudur, hingga pada akhirnya acara yang dinanti-nantikan oleh para wisatawan pun ikut batal dilaksanakan.

Pada awalnya kehadiran wisatawan-wisatawan pada hari perayaan Waisak, walaupun tidak semuanya memeluk agama Buddha, seakan menunjukkan bahwa konflik-konflik yang didasari faktor keagamaan, yang dahulu sering terjadi di beberapa daerah, sudah hilang. Seakan-akan wisatawan-wisatawan yang saat itu datang, sudah sangat menghargai betapa pentingnya toleransi antar umat beragama.

Namun semua itu dirasa hanyalah pemanis dari sebuah pemberitaan, betapa hampir semua pengunjung yang datang, hanya menanti terbangnya keromantisan lampion-lampion diatas langit Borobudur. Sebuah wajah baru dari konflik beragama yang dahulu ditandai dengan peperangan dan pertumpahan darah, yang kini bersembunyi dibalik tameng yang bernama pariwisata.

Saya sedikit membayangkan bagaimana jika saya yang sedang merayakan hari raya keagamaan saya, tiba-tiba ditonton ratusan hingga ribuan orang-orang, kemudian diberitahukan bahwa imam yang akan memimpin ibadah keagaaman tersebut datang terlambat, lalu disaat bersamaan, para penonton yang hadir dengan suara cukup kencang meneriakkan wooo. Mungkin saya akan dengan sangat lantang mencibir perbuatan penonton-penonton tersebut.

Entah dimana letak kesalahan dari wajah baru konflik keagaaman ini, sedikit rasa syukur, ketika tidak mendengar lagi adanya pertumpahan darah, namun sangat meringis ketika melihat secara langsung bahwa toleransi antar umat beragama seakan menjadi alat permainan bagi beberapa orang. Seringkali kita mengatasnamakan toleransi antar umat beragama, namun kita malah merusak kesakralan dari prosesi keagamaan tersebut. Keegoisan seakan tak pernah lepas dari diri kita. Kita mengutuk dengan keras orang-orang yang menjelekkan agama kita, namun kita sendiri tak jarang juga menjelekkan agama orang lain.

Hari Raya Waisak adalah salah satu hari raya yang sangat sakral bagi umat Buddha, namun dimana letak kesakralan ritual keagamaan tersebut, jika beberapa fotografer entah itu jurnalis atau bukan, dengan sangat lancang maju ke mimbar acara dan mengerubungi para biksu, dan bahkan sampai menginjak-injak kaki para biksu, lalu dimanakah letak kesakralan itu jika yang hadir tidak lagi menggunakan pakaian yang sopan atau minimal yang pantas untuk digunakan saat perayaan hari raya keagamaan.

Saya rasa, hampir dari kita semua, khususnya selain umat Buddha dan khususnya yang hadir atau pernah hadir pada perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, tidak perlu munafik untuk mengatakan bahwa kita datang, hanya untuk menyaksikan lampion-lampion itu berterbangan, bukan untuk merasakan bagaimana hangatnya, bagaimana sakralnya ritual keagamaan tersebut.

Semua orang dapat disalahkan dalam hal ini, pelaksana acara misalnya, dapat disalahkan karena tidak mengatur acara ini sedemikian rupa, agar dapat meminimalisir kekacauan yang ditimbulkan oleh pengunjung yang hadir. Media juga dapat disalahkan, seperti misalnya, berkat merekalah acara ini semakin tahun semakin melunjak jumlah pengunjung yang datang. Tetapi saya rasa, dari beberapa pihak yang dapat dijadikan sebagai dalang utamanya, adalah dari diri kita sendiri, para pengunjung atau wisatawan yang hadir pada perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur tersebut. Sejak awal kita seharusnya telah mampu mengerti, bahwa ini adalah acara sakral, dan sepenting apapun posisi kita, jabatan kita ataupun tugas kita, kita tetaplah tamu dari hari raya tersebut, dan sudah sepantasnya kita harus menghormati tuan rumah dari acara tersebut. Masih pantaskah kita mengatakan bahwa kita pantas untuk meliput prosesi keagamaan tersebut, jika kita meliput prosesi keagamaan dari jarak 10 cm dari wajah sang pemimpin agama tersebut, masih pantaskah kita mengeluh ketika lampion tidak jadi terbang, sedangkan kita saja sudah menginjak-injak kesakralan prosesi keagamaan tersebut, dengan teriakan-teriakan seperti seorang suporter sepakbola mencibir pemain lawan yang kasar. Tetapi inilah kenyataannya, inilah sebuah wajah baru dari toleransi antar umat beragama, yang tetap mempertahankan muka duanya.

Perayaan Waisak di Candi Borobudur merupakan salah satu contoh wajah baru toleransi keagamaan yang munafik, masih banyak contoh-contoh yang lain. Semuanya terlihat indah, ketika ucapan-ucapan selamat hari raya sering diucapkan antar umat beragama, namun nyatanya kita hanya fasih dalam berbicara, tetapi kita bodoh dalam bertindak. Kesakralan ritual keagamaan berubah menjadi kebrutalan ritual keagamaan dan kita terus menganggap inilah bagian dari toleransi beragama, hingga pada satu malam tanggal 25 Mei 2013, seorang biksu berteriak bahwa kakinya terinjak akibat para fotografer tak beretika mengerubun maju ke depan, bak sebuah anjing yang kencing di balik pohon. Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu.

Posted on June 12, 2013, in TULISAN BANYAK GAYA and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: