BAWA PULANG SAMPAHMU, BUKAN MEMBAWA PULANG KELUHANMU

Weekend nanti mau kemana nih kita?” Pertanyaan tersebut, yang pada babak selanjutnya akan selalu diikuti dengan otak-atik mbah google, dengan beberapa kata kunci yang akan menjadi tujuan dari wisata pada akhir pekan nanti. Tak jarang pula, di tengah-tengah babak tersebut, sedikit terjadi perdebatan antara dua atau lebih manusia, yang sama-sama menginginkan liburan yang berkesan, yang mampu merelaksasikan otak dan fisik mereka dari kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan pada lima hari sebelumnya.

Ya, TGIF (Thanx God in Friday) seakan-akan menjadi pelepas dahaga dari kenyataan bahwa beberapa hari kemudian singkatan yang akan muncul di otak ini adalah IDM (I Don’t Like Monday). Kita seakan-akan juga memiliki kepribadian ganda, dimana pada satu saat kita akan menjadi Tom, yang selalu menghindar dari kejaran Jerry (I Don’t Like Monday), namun juga kita pada satu saat menjadi Jerry, yang selalu mengejar-ngejar dan berharap kehadiran Tom (Thanx God in Friday).

Liburan, Wisata, atau Travelling, sejak dahulu sudah menjadi kegiatan yang akan selalu dilakukan oleh manusia yang masih hidup, tidak perduli dia sedang panuan, kudisan, korengan, ataupun penyakit-penyakit lainnya, asalkan belum meninggal, bahkan beberapa orang juga mengatakan bahwa meninggal adalah bagian dari liburan lain yang akan dirasakan oleh manusia kelak.

Lalu bagaimana dengan Indonesia pada masa kini? Ah sudahlah, tidak perlu lagi kita meragukan bagaimana di negeri ini, kita disajikan berjuta-juta destinasi wisata. Wisata ke alam terbuka, mall atau plaza-plaza, cafe atau warung kopi, hingga warung remang-remang pun dapat dikategorikan sebagai destinasi wisata bagi beberapa orang. Negeri ini menyimpan berjuta keindahan dengan berjuta pula keajaibannya. Namun kini, cukuplah saya membahas mengenai destinasi wisata alam saja.

Alam Indonesia? Ah, lagi-lagi saya tidak menemukan satupun alam yang ada di negara-negara lain, yang tidak dimiliki negeri zamrud khatulistiwa ini. Anda mencari puncak gunung yang terdapat buliran-buliran saljunya, silahkan anda mendaki Puncak Cartenz yang berada di Gunung Jayawijaya. Mungkin anda mencari deburan ombak yang menjadi surga bagi para peselancar, silahkan anda ke Pulau Dewata, atau anda bisa juga menyusuri daerah Cimaja, Jawa Barat, dan masih banyak lain. Mungkin juga anda mencari padang savana, silahkan anda mengunjungi Pulau Sumbawa, disana anda akan disuguhi padang savana nan luas, yang menjadi kandang alami bagi kuda-kuda. Atau mungkin juga anda sebatas ingin mencari lumba-lumba yang bergerombol di lautan, jika anda bosan dengan Pantai Lovina di Bali, silahkan anda mengunjungi Teluk Kiluan di Lampung, Pulau Sumatera. Lalu, wisata alam apa yang tidak dimiliki negeri ini? Tolong Dora untuk menemukannya.

Fasilitas-fasilitas, seperti transportasi, penginapan, maupun fasilitas-fasilitas lainnya, mungkin salah satu kelemahan mencolok dari negeri ini, namun tolong, jangan salahkan alam negeri ini, yang tidak mampu memanjakan kita dengan fasilitas-fasilitas yang seperti anda bayangkan, silahkan anda salahkan anak-anak negeri ini, yang diberi kekuasaan lebih untuk mengatur beribu-ribu pulau yang ada di Indonesia. Tetapi, cukuplah sudah kita terus menerus memprotes dan merengek kepada manusia-manusia itu, karena hanya akan membuang-buang waktu kita saja, dan kita bukanlah sekumpulan balita-balita, yang terus merengek manja meminta belaian dari orangtua kita! Kini sorotan pun tertuju pada beberapa balita tersebut yang ada di tengah-tengah berjuta-juta manusia yang ada di negeri ini.

Anda pernah mendengar, atau mungkin membaca tulisan-tulisan yang berisikan mengenai keluhan atau kritikan-kritikan terhadap kotornya suatu destinasi wisata alam? Jika pernah mendengar, salahkah tulisan tersebut? Saya rasa tidak salah, karena tanpa perlu dipungkiri, kita semua memerlukan kritikus-kritikus tersebut, karena berkat merekalah kita mengetahui kekurangan-kekurangan suatu destinasi wisata alam yang akan kita kunjungi. Namun, hal tersebut bukan berarti setiap orang boleh atau berhak menjadi seorang kritikus, hanya kritikus-kritikus yang telah melakukan usaha perbaikan secara nyatalah yang boleh berkoar-koar mengenai kotornya suatu destinasi wisata alam.

Saya pun jadi teringat dengan ucapan Pak Salim, seseorang yang tak banyak dikenal atau bahkan diingat namanya bagi para wisatawan yang pernah berkunjung ke Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Beliau pernah berucap, “Orang-orang banyak yang cerita ke bapak dengan bangganya, bahwa mereka baru melakukan bersih-bersih pulau. Tapi saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dibanggakan, karena sebelum anak itu melakukan bersih-bersih pulau, anak itu pernah datang ke pulau dengan teman-temannya, dan dia membuang sampah sembarangan juga kok. Jadi ngapain capek-capek ngajakin orang buat bersih-bersih pulau, kalau kita sendiri saja tidak memulainya dari diri kita sendiri, dengan cara tidak membuang sampah ke pulau ini.”

Kemudian, pernah juga suatu ketika saya membaca sebuah artikel di salah satu blog, yang memberitakan betapa kotornya Pulau Sempu, lalu di akhir tulisannya tersebut, sang penulis menganjurkan kepada para orang-orang agar tidak mengunjungi Pulau Sempu, karena pulau tersebut adalah wilayah cagar alam. Memang sekilas tidak ada yang salah dengan tulisan tersebut, namun setelah saya secara langsung bertanya kepada sang penulis, sebelum saya melakukan perjalanan ke pulau tersebut, saya menanyakan kepadanya apakah dia pernah ke pulau tersebut? Jawabannya pun sudah dapat ditebak, yaitu sudah pernah, karena logikanya tidak mungkin sang penulis berani mengkritik sampah-sampah yang ada di pulau tersebut, jika dia sendiri tidak pernah berkunjung ke pulau tersebut. Lalu selanjutnya saya kembali bertanya, apakah sang penulis saat mengunjungi pulau tersebut, sudah melakukan usaha bersih-bersih yang nyata, ternyata jawabannya belum, karena menurut sang penulis, melihatnya pun saya sudah malas.

Disinilah letak kekeliruannya, memang benar, cagar alam merupakan tempat terlarang bagi segala macam kegiatan-kegiatan pariwisata, namun dalam situasi di Pulau Sempu ini, sampah yang sudah menghiasi beberapa sudut di pulau tersebut, bukan ditindaki dengan kritikan, atau pemboikotan belaka, tetapi tetap ditindaki dengan kegiatan yang nyata. Menurut saya, cukup bijak jika kita mengajak orang-orang yang pernah ataupun akan menginjakkan Pulau Sempu, berkumpul pada suatu kegiatan bersama, dengan sebuah acara bersih-bersih pulau, memang jika mengingat ucapan dari Pak Salim, seharusnya sejak kedatangan kita ke pulau tersebut, seharusnya kita sudah menjaga kebersihan, namun bukan berarti juga kita sudah telat dalam melakukan penebusan dosa atas sampah-sampah yang telah kita tinggalkan. Memang, hal itu juga tidak menjadi jaminan setelah kegiatan tersebut, Pulau Sempu akan kembali seperti semula, namun setidaknya kita telah menaruh benih-benih di otak orang-orang, agar sadar untuk membawa kembali sampah-sampah yang mereka buat, bukan hanya dibakar saja.

Bukan berarti hal seperti ini, hanya ada di Pulau Sempu saja, dan bukan berarti kita berhak untuk saling salah-menyalahkan. Hal seperti di atas, dapat dipastikan juga terjadi di daerah-daerah lain, dan kesalahan ada pada kita semua. Kita yang telah lupa, bahwa kita telah dipercaya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk menjaga mutiara-mutiara tersebut, bukan hanya sebatas berbicara, namun juga bertindak. Kita yang juga selalu mengeluh kepada para pejabat-pejabat di negara ini, karena tidak pernah memperhatikan alam negeri ini, padahal kita sendiri seringkali acuh tak acuh ketika melihat sampah saat sedang melakukan perjalanan ataupun liburan. Satu hal yang perlu kita mulai tanamkan dalam diri kita sendiri mulai saat ini, kita bukan lagi sekumpulan balita-balita yang terus merengek meminta dimanjakan oleh orang tua (baca:pemerintah) kita, kita saat ini adalah sekumpulan yatim piatu yang mampu untuk hidup secara mandiri, tanpa bantuan orang tua kita. Kelak, para orang tua tersebut, akan sadar, bahwa kini merekalah yang seharusnya mencontoh kita, karena kita telah mampu mengayomi mereka.

Posted on July 28, 2013, in TULISAN BANYAK GAYA. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: