BERPACU MENUJU UJUNG PULAU JAWA

DSCN0024-1sz

17 Agustus 2013 (12:30 WIB)

Belum juga perjalanan ini dimulai, belum juga aku dapat membuktikan bahwa negeri ini memiliki berjuta-juta mutiara alam yang terpendam, aku telah disuguhkan satu alasan, mengapa berwisata di dalam negeri bagi sebagian orang hanyalah pilihan nomor dua.

PT. Kereta Api adalah penyebabnya.

Lalu kenapa aku menyalahkan PT. KAI? PT. Kereta Api Indonesia adalah salah satu perusahaan yang menaungi transportasi perkeretaan di negeri ini, dan kekesalan serta kegemasan ini berawal ketika aku hendak membeli tiket kereta yang akan membawa kami (Aku dan Andi Ramawan) dari Semarang menuju Surabaya Pasar Turi.

Kekesalan ini berawal dua hari sebelum kami memulai perjalanan ini. Jauh beberapa minggu sebelum keberangkatan, kami telah mengestimasi biaya-biaya yang akan dikeluarkan selama perjalanan ini, salah satunya adalah biaya transportasi kereta api, yang mana pada beberapa minggu sebelum perjalanan itu, aku telah mengecek melalui website resmi PT. Kereta Api Indonesia. Pada website tersebut, tertera bahwa harga tiket kereta api dari Semarang menuju Surabaya Pasar Turi, sebesar Rp. 80.000, begitu juga dari Stasiun Surbaya Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru yang juga seharga Rp. 80.000.

Alhasil karena harga yang cukup terjangkau, serta dengan menggunakan kereta api, setidaknya kaki kami dapat sedikit rileks dibandingkan harus menggunakan bus, kami pun telah menyepakati bahwa perjalanan menuju kota Banyuwangi dilalui dengan transportasi kereta api, yang mana dilakukan secara estafet dari Stasiun Semarang Tawang menuju Stasiun Surbaya Pasar Turi, kemudian berpindah dari Stasiun Surbaya Pasar Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru.

Tepat dua hari sebelum keberangkatan, aku dan Andi Ramawan pun melakukan pengecekan ketersediaan tiket kereta api, langsung di Stasiun Semarang Tawang, setelah kami bertanya-tanya di ruang informasi penumpang, kami mendapatkan berita membahagiakan bahwa harga yang kami inginkan yaitu Rp. 80.000 masih tersedia. Baik dengan Kereta Api Harina dan Sembrani. Alhasil kami cukup tenang, setelah mengetahui dari petugas yang berada di bagian informasi penumpang bahwa sisa seat di Kereta Api Harina dan Sembrani masih terdapat sekitar 30 dan 40 seat. Kamipun akhirnya memilih untuk memesan tiket pada esok hari, karena pada hari itu kami berniat membantu teman kami mencarikan tiket pulang dari Semarang menuju Jakarta, (sama-sama kita semua ketahui bahwa kepadatan arus mudik saat itu sedang pada masa puncak-puncaknya/ H+7).

Esok harinya, aku seorang diri menuju Stasiun Semarang Tawang untuk memesan tiket yang kemarin telah kami sepakati. Agar tidak salah ketika sampai di loket pemesanan, aku pun kembali memastikan ketersediaan tiket tersebut, di bagian informasi penumpang.

“Mbak, mau tanya, tiket kereta api dari Semarang ke Surbaya masih ada?” Tanyaku kepada perempuan berkerudung yang merupakan petugas bagian informasi penumpang.

“Masih ada mas, ada Kereta Harina, Argo Bromo Anggrek dan Kereta Sembrani” Jawab sang petugas, setelah sebelumnya melakukan pengecekan dari layar komputernya.

“Dari tiga kereta itu, tiket termurahnya kena di harga berapa yah mbak?” Tanyaku lagi, yang berpura-pura tidak ingat, bahwa pertanyaan seperti ini, sudah aku tanyakan kemarin.

“Sembrani dan Harina harga termurahnya sama-sama Rp. 80.000.”

Tepat!! Sama seperti jawaban yang kemarin sang petugas ini berikan. Tanpa perlu menunggu lama, setelah nomor antrian aku disebutkan pada loket pemesanan, akupun langsung menuliskan namaku dan Andi dalam kertas pemesanan tiket keberangkatan.

“Total semuanya 480 ribu mas.” Cetarrr… Mendadak seperti terkena halilintar, aku terhuyung-huyung dan langsung jatuh pingsan (maaf aku bukan bintang ftv, yang gampang pingsan setelah mendengar berita buruk).

“Lah kata mbak yang di informasi, katanya kereta Sembrani masih ada yang harga Rp. 80.000 mbak?” Tanyaku yang sedang mencoba untuk bersabar, mengingat masih H+8 Lebaran, sehingga moment untukku meluapkan emosiku belum pantas dilakukan.

“Enggak ada mas, adanya harga Rp. 240.000.” Jawab sang petugas dengan nada juteknya.

Langsung dengan muka kesal dan tergesa-gesa, aku kembali mendatangi bagian informasi, dan ternyata setelah itu sang petugas meralat, bahwa hanya kereta Harina yang masih menyisakan tarif 80.000.

Setelah mendengar ralatan sang petugas, loket pemesanan kembali aku datangi, dengan tetap membawa kertas pemesanan tiket yang sama, namun sedikit pencoretan dari kereta Sembrani menjadi kereta Harina. Lagi-lagi, sesampainya di loket tersebut, jawaban sama yang aku dapatkan, hanya tiket kereta seharga Rp. 240.000 yang masih tersisa. Hanya saja kali ini tidak ada efek halilintar yang datang, namun diganti dengan efek gempa bumi yang menimpaku, setelah mendengar jawaban sang petugas itu.

Saat itu, memang rasa kesal dan putus asa sudah cukup memuncak, namun kedua rasa itu sedikit terkalahkan dengan rasa penasaran. Kembali aku mempertanyakan kepastian harga tiket murah itu kepada bagian informasi, dan jawabannya… “Maaf mas, ternyata sudah habis semua.”

PERMAINAN HARGA!!! Dan jika ada yang bisa menganalisa kejadian itu, aku yakin semua orang pasti akan setuju dengan statement aku tersebut. Bahwa kejadian tersebut didasari atas adanya permainan harga terhadap tiket kereta yang tidak jelas itu. Namun cukuplah sudah aku berkesal-kesalan, karena takkan ada habisnya aku mengeluh, toh kejadian ini takkan menjadi hadangan untukku membuktikan bahwa melakukan wisata di dalam negeri tetap pantas untuk dijadikan pilihan nomor satu. Biarlah bobroknya infrastuktur, sarana dan prasarana yang dilakukan serta diberikan oleh tikus-tikus berkerah itu menjadi bumbu cerita dalam perjalanan ini.

#####

Setelah kejadian itu, niat Aku dan Andi tetap tidak surut untuk mengungkapkan dan memberikan doktrin, bahwa negeri ini tetap pantas untuk dijadikan pilihan nomor satu ketika melakukan wisata. Jalan keluar dari tiket kereta yang PHP (Pemberi Harapan Palsu) sebelumnya, kami pun memilih untuk menggunakan transportasi bus.

Tidak ada yang berubah dalam rute perjalanan yang akan kami tempuh, dengan tetap menjadikan Semarang sebagai start awal kami, kemudian dilanjutkan dengan menuju Surabaya, serta Banyuwangi sebagai pemberhentian terakhir kami, sebelum menginjakkan kaki di Pelabuhan Ketapang.

Bungur.. Bungur.. Bungur.. Habis.. Habis.. Habis.. Iringan ‘saxophone’ yang dimainkan oleh para seniman-seniman yang tertidur pulas di dalam bis, ternyata berhasil membuat kami berdua tertidur pulas, hingga tanpa terasa kami telah tiba di Terminal Bungurasih Surabaya.

“Mau kemana mas?”

“Ojek mas?”

“Mau kemana mas?”

“Taxi nya mas?”

“Mau kemana mas?”

Ahh..baru juga turun dari bis, aku sudah dijejali pertanyaan-pertanyaan, bahkan arwah badan ini saja belum masuk 100% ke dalam fisik ini. Cukup jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan itu, aku pun mencoba menjawab sekenanya. “Makasih mas, aku mau ke Bali.”

Sialnya, jawabanku itu, malah memancing beberapa orang ikut mengerubungiku dan Andi.

“Mau ke Bali mas? Ayo mas mari ikut aku, bis nya sudah yang terakhir loh.”

“Oalah mas..mas.. Kalah deh sales panci sama situ mas.” Gerutuku dalam hati. Dengan langkah seribu dengan tetap menebar senyuman, aku dan Andi bergerak menuju tempat tunggu bis yang ada di bagian lain terminal ini.

Dari beberapa ‘sales tiket’ yang ada tadi, hanya tinggal dua orang yang masih bertahan, sisanya telah tereleminasi oleh kerasnya hidup. Tapi bukannya mereka berdua menyerah, untuk menawarkan bis langsung menuju Pulau Dewata, namun terus saja mereka gencar menawarkan, hingga kami terduduk di bangku tunggu bis, mereka masih terus berusaha, bahkan terasa makin akrab dengan kami berdua.

“Maaf mas, aku masih nunggu temanku lagi, dia masih di kereta, katanya sih baru masuk Surabaya sekitar 3 jam-an lagi.” Satu alasan yang aku anggap sudah sangat sakti, yang pastinya akan membuat ‘sales tiket’ itu mundur.

Sialnya, 2 orang itu tidak juga menyerah, “Gak apa-apa kok mas, bis nya juga belum penuh, nanti ditungguin kok.”

Astajim mas-mas, masa rela ngebiarin penumpang yang lain kebosanan di dalam bis, demi menunggu teman fiktif aku datang. Ujarku dalam hati, yang diwujudkan dengan geleng-geleng kepala.

“Emang kalau boleh tau, harga tiketnya berapaan yah mas?” Dengan mimik yang berpura-pura terpikat, aku menanyakan hal tersebut.

“Rp. 250.000 kok mas.” Jawab ‘sales tiket’ yang kembali mengingatkan aku pada momen di mana halilintar turun hingga menembus Stasiun Semarang Tawang dua hari yang lalu.

“Wah mas, maaf uang kami gak cukup nih buat naik bis seharga itu.” Sanggahan jujur yang aku berikan tersebut, ternyata cara yang paling ampuh untuk membuat dua ‘sales tiket’ itu mundur perlahan dari ‘pdkt’ yang sedari tadi mereka lakukan. Ditambah dengan rokok sampoerna hijau yang aku keluarkan, semakin membuat dua ‘sales tiket’ itu yakin, bahwa dua lelaki yang ada di hadapan mereka ini adalah dua lelaki tuna wisma, yang mendapatkan segala kostumnya dari sumbangan-sumbangan para pejabat dan artis-artis yang cari perhatian saat Lebaran kemarin.

Setelah dua ‘sales tiket’ tersebut berlalu dari hadapan kami berdua, aku dan Andi Ramawan pun memilih untuk beristirahat di sebuah warung kopi yang ada di dalam terminal sambil menyeruput kopi hitam. Sekitar 3 setengah jam sudah, kami habiskan untuk meregangkan segala otot-otot persendian, dan tepat pukul 02.00 WIB pagi, kami pun berangkat menuju Banyuwangi.

Selanjutnya mengenai apa-apa yang terjadi selama di dalam bis, sepanjang Surabaya-Banyuwangi, cukup dibayangkan saja, karena hanya satu dua orang saja yang masih terjaga dari tidurnya, mungkin sebelum berangkat, mereka meminum kopi sampai 5 gelas.

Namun kali ini alunan ‘saxophone’ seperti ketika kami sedang menuju Terminal Bungurasih, hanya bertahan sekitar 2 setengah jam, karena ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6, pemandangan indah persawahan dengan background lembayung mentari yang terbit, ditambah kabut tipis, membuat mataku dan Andi Ramawan terpana, bau tanaman cabai, seakan menjadi bau sang mentari ketika telah terbangun dari tidurnya.

“mau kemana mas?” Tanya sang kernet, sambil mata dan tangannya tetap tak terlepas dari segenggam uang yang sedang dihitungnya.

“Mau ke Banyuwangi mas.” Jawabku yang tak kalah cuek, karena rasanya panca inderaku belum sudi untuk melepaskan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kota Jember, yaitu lahan pertaniannya.

“Emang rumahnya di Banyuwangi mananya mas? Eh mas abis naik gunung yah? Gunung apa mas?” Cecar sang kernet, yang sejenak mampu membuat aku memandangi dengan tajam dan teliti dari ujung sepatuku, hingga bagian badanku. Rasanya tampang-tampangku belum dekil-dekil banget deh, kenapa kernet ini langsung main asal tebak, kalau aku baru naik gunung.

“Saya gak tinggal di Banyuwangi mas, ini rencananya mau ke Gilimanuk, terus dari Gilimanuk, kita mau nyeberang ke Bali, terus uda gitu naik gunungnya baru pas kita di Bima deh mas.” Jawabku yang mencoba menekankan satu kalimat, “Badanku gak dekil-dekil banged kalee mas!!”

“Oalah mas, kenapa naik bis ini toh? Seharusnya kalau mas mau ke Gilimanuk, mas naik bis yang jurusan Banyuwangi via Situbondo mas, bukan yang via Jember.”

“Lah tapi ini bis berhenti di Banyuwangi kan?” Tanyaku yang ingin memastikan bahwa sang kernet adalah orang suruhan dari televisi, yang hendak melakukan sebuah ‘supertrap’ padaku, kemudian ketika aku sudah turun dari bis nya, sang kernet sambil bergelantungan di pintu bis, berteriak padaku, “yak kalian masuk di acara ups kena deh.”

“Iya mas, ini bis berhenti di Banyuwangi juga, cuman seharusnya kalau mas, mau ke Gilimanuk itu, mas bukan naik bis yang jurusan Banyuwangi via Jember, soalnya bakalan lebih lama dibandingin mas naik bis jurusan Banyuwangi via Situbondo.”

“Tapi, tadi orang di terminal bilangnya bis ini ke Banyuwangi deh mas.”

“Iya bener kok orang di terminal itu mas, emang bis ini ke Banyuwangi juga, cuman jalur bis ini lebih jauh mas dibandingin bis ke Banyuwangi yang via Situbondo. Jadi nanti lain kali, kalau mas mau ke Gilimanuk, mas bilang aja ke orang terminal kalau mas mau ke Gilimanuk, soalnya kalau mas bilang mau ke Gilimanuk, pasti mas diarahinnya buat naik bis yang ke Banyuwangi via Situbondo. Nah sama aja kalau nanti pulangnya mas dari Gilimanuk, mas tetep cari bis yang lewat Situbondo mas.” Yak fix sudah, kami bukan sedang diacara jahil menjahil, namun ini adalah bagian dari kebodohan yang pertama kami lakukan dalam perjalanan ini.

Untungnya saja, kami tidak sampai rugi dalam materil kami, karena harga untuk menaiki bis ke Banyuwangi via Jember sama saja seperti bis ke Banyuwangi via Situbondo, walau memang tetap saja jarak tempuh lebih dekat jika melewati Situbondo.

Atas kejadian tersebut, alhasil kami tidak benar-benar berhenti di dekat Pelabuhan Ketapang, kami berhenti tepat di patung 6 kuda seperti yang ada di Jalan Kwitang Jakarta, namun kali ini di Kota Banyuwangi. Setelah beberapa saat kami bertanya-tanya pada orang-orang sekitar, ternyata untuk mencapai Pelabuhan Ketapang, kami harus menaiki dua kali angkot, yang mana pada angkot yang pertama kami harus membayar Rp. 10.000 dan yang kedua yang akan membawa kami hingga persis di depan gerbang masuk Pelabuhan Ketapang seharga Rp. 5.000. Namun berkat kesalahan ini pula, keseruan lain terjadi dalam perjalanan kami menuju tanah terujung Pulau Jawa.

Setelah mengetahui harga yang akan kami keluarkan untuk menuju Pelabuhan Ketapang, aku iseng-iseng bertanya kepada seorang tukang ojek, berapakah uang yang harus kami keluarkan jika menggunakan ojek.

“Rp. 20.000 mas, sampai persis di depan Pelabuhan Ketapang.” Ujar tukang ojek yang aku tanyai.

Wah, lebih mahal berarti jika aku menggunakan ojek. Namun tetap saja kami mencoba untuk menawar kembali sang tukang ojek, hingga akhirnya kami berempat (dengan seorang tukang ojek + seorang lagi tukang ojek tambahan) gagal untuk menggoyangkan harga tersebut.

Aku dan Andipun memilih untuk meninggalkan tukang ojek tersebut, hingga setelah beberapa langkah telah kami lalui, “Mas dua puluh lima ribu deh, tapi satu motor aja, gimana?”

“Ndi, lumayan juga tuh dua puluh lima ribu tuh?” Bisikku pada Andi Ramawan.

“Tapi satu motor bertiga itu Max.” Jawab Andi yang sedang memandang lebar badanku yang lumayan maruk.

“Santai aja kalee mandanginnya. Nah tapi itu dia serunya ndi, kan jadinya kesannya buat mencapai ujung Pulau Jawa itu butuh perjuangan ekstra juga, terus uda gitu lumayan juga kan ngirit dua belas ribu lima ratus perorangnya.” Jelasku, yang menganggap aku tetap diincer wanita-wanita kok walaupun badan aku tak atletis seperti cowok-cowok metropolitan saat ini. Akhirnya dengan sedikit cap cip cup cap cip cup, kawan perjalananku itupun setuju dengan kegilaan dan kengiritan aku tadi, dan kegilaan pun dimulai!!

Dengan keseimbangan tetap terjaga walau beban yang diangkut sama seperti memboncengi empat orang, sang tukang ojek melaju kencang melewati jalan-jalan ‘tikus’, tentu jalan itu diambil tak lain dan tak bukan untuk menghindari tilangan polisi. Mata orang-orang yang kami lalui pun selalu tertuju pada Aku dan Andi Ramawan, entahlah, apakah orang-orang melihat kami karena jarang traveller ganteng yang naik ojek, bertiga pula, atau apa karena orang-orang melihat kami karena “ihh kerek banged tuh orang, style nya doang yang kayak traveller bule gitu, tapi naik motor aja sampe bertiga gitu.”

Aku pun sambil merogoh kantong baju aku, mengeluarkan handphone, dan memencet tombol video dan merekam moment ini. Bayangkan bagaimana tidak memacu adrenalin transportasi kami yang satu ini, aku yang duduk paling belakang, tetap memanggul carier 40 liter, kemudian di depanku ada Andi Ramawan dan sang ‘transporter’, serta ditambah di depannya persis diantara stang motor dengan sang ‘transporter’ terduduk carier 25 liter Andi Ramawan, lalu sudah begitu jarum spedometer sedari tadi terus saja berkisar di angka 40, hingga pada satu polisi tidur, kami berdua dibuat terbang oleh sang ‘transporter’ akibat lupa untuk menginjak dan memencet rem.

Hingga satu tasbih diucapkan Andi, ketika kami akhirnya tiba di depan gerbang Pelabuhan Ketapang, “Alhamdulillah…” Dan satu pesanku pada sang ‘transporter’ sebelum dia memutar balikkan motornya ke pangkalannya tadi, “jangan diulangi lagi yah pak.”

Aku jadi teringat pada satu moment di film 127 Hours dan Into The Wild, dimana pada saat mereka kesusahan seorang diripun, mereka tetap mampu menciptakan keseruan dan kelucuan tersendiri, untuk menghilangkan keletihan, kejenuhan hingga keputus asaan atas perjalanan yang mereka lakukan. Ingat bagaimana Super Tramp dalam film Into The Wild yang tetap asyik seorang diri di dalam mobil van bekas yang telah cukup rusak. Dan hal itu pulalah yang sering aku, Andi dan kita semua salah persepsikan, bahwa keseruan dan kelucuan dalam setiap perjalanan bukanlah menunggu dari guide, paket-paket yang ditawarkan seperti water sports, ataupun teman perjalanan kita sendiri, namun diri kita sendirilah yang mampu menciptakan keseruan dan kelucuan itu.

#####

Tanggal 18 Agustus 2013, tepatnya pada pukul 11. 30 WIB, aku dan Andi Ramawan, persis berada di daratan terakhir Pulau Jawa, sejengkal dari daratan ini, aku sudah berada di perairan Selat Bali. Sambil menatap kembali ke arah belakang, aku menatap sebuah pulau yang hampir sebagian besar penduduknya adalah masyarakat atau khususnya pemuda-pemudi yang memuja perjalanan ke luar negeri namun menyepelekan perjalanan di dalam negeri.

Aku tak peduli apakah ini dianggap sebagai rasa nasionalisku ataukah bukan, karena semua ini aku anggap bukanlah bagian dari rasa nasionalis, namun bagian dari utangku pada negeri ini. Aku juga tak peduli dengan merah putih, karena semua ini bukanlah mengenai sebuah bahan yang berwana merah dan putih, namun mengenai tanah, laut dan alam negeri ini, yang telah ditunjuk oleh Tuhan Yang Maha Esa, sebagai orang tua, yang telah mendidik, membesarkan dan merawatku selama ini.

Kini diujung tanah Jawa ini, aku akan mengajak seluruh manusia yang menempati negeri ini, untuk mengenal lebih dekat, hingga kemudian bercinta dengan tanah, laut dan seluruh alam negeri ini. Karena aku tak mampu untuk seorang diri bercinta dengan jutaan keindahan alam dan ribuan keunikan budaya serta masyakaratnya.

Salam dari jembatan Kapal Levina.

Posted on September 20, 2013, in ARTIKEL OTENTIK and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: