MENGAPA MALAYSIA, KENAPA BUKAN INDONESIA

DSCN0025-1sz
17 Agustus 2013 (20:18 WIB)

Rasanya hingga saat ini aku belum juga mampu untuk menyebutkan nama-nama ibukota provinsi masing-masing provinsi di Indonesia, tak usah muluk-muluk seluruh Indonesia, bahkan hingga ada seseorang yang menanyakan RT atau RW berapa yang ada di sekitar rumahku saja, aku belum tentu mampu untuk menunjukkannya. Betapa sungguh memalukannya pengetahuan geografiku ini. Namun ada satu hal yang mampu aku tunjukkan betapa aku begitu mencintai ‘negeri’ ini. Negeri ini yang aku maksud adalah aku mencintai apapun yang ada di negeri ini, terkecuali dengan para pejabat-pejabat pemerintahannya, tak perduli apakah dia pejabat teras maupun pejabat kamar mandi. Dan hal yang membuatku begitu mencintai negeri ini, hingga menyebabkan aku begitu jengkel ketika mendengar, melihat, bahkan merasakan segala sesuatu yang bersangkut pautan dengan penyepelean keindahan alam serta keunikan adat istiadat negeri ini. Keindahan dan keunikan yang dimiliki negeri inilah yang membuat aku begitu mencintai negeri ini.

Ya, negeri ini, walaupun hanya sebatas foto-foto dan cerita-cerita yang disajikan oleh mbah gugel, sudah mampu membuatku terpana akan keeksotikan, keasrian dan keagungan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang diberikan secara adil di tiap-tiap sudut negeri ini. Hingga aku merasa yakin, tak ada satupun celah yang terlewatkan oleh Yang Maha Kuasa, yang tidak diberikan anugerah atas alam serta adat istiadatnya.

###

Malam itu dari balik kaca bis Karya Jaya, bulatan cahaya kuning bulan cukup menyinari persawahan yang aku lewati di beberapa tempat selama perjalananku dari Semarang menuju Surabaya. Rasanya tinggal menambah dua titik sejajar serta garis lengkung membentuk senyuman yang berada di bawahnya, menjadikan bulan yang sedang aku pandangi ini berubah menjadi sebuah emoticon smile. Sang bulan seakan meyakinkanku bahwa negeri ini akan memberikan sejentik dari triliunan keindahan dan keunikan yang terpendam, atau bahkan terlupakan oleh aku dan seluruh masyarakat yang mendiami tanah merah putih ini.

“@febria Ayo deh tapi kumpulin duit dulu yah RT @agsa @sofny @kibo biaya ke KL gak jauh beda kok kayak ke singapur kemarin.”

Ahh, kenapa sih harus percakapan mantanku dengan teman-temannya itu yang masih terbayang ketika perjalanan ini baru dimulai beberapa jam lalu. Memang, aku dan mantanku itu baru saja putus, mungkin juga masih ada rasa jeles ketika membaca percakapannya itu, tapi bukan itu sebenarnya yang menjadi penyebab kejengkelanku atas tweet itu, yang jadi penyebabnya adalah, mengapa dia ikut-ikut terpesona akan cerita lebay akan wisata ke luar negeri itu.

Dahulu ketika dia mengutarakan hendak ke Singapura, aku tak bisa menahannya, karena aku sedang mengerjakan skripsi, walau sempat aku mengatakan bahwa di Singapura tidak ada apa-apa, selain patung singa yang tiap hari selalu saja ‘muntah’. Saat inipun ketika dia hendak menginjakkan kaki di Malaysia, aku lagi-lagi tak dapat mencegahnya, karena posisiku saat ini hanya sebatas mantan. Yang lebih membuat aku jengkel, mengapa Malaysia? Mengapa Kuala Lumpur juga? Mengapa tidak ke Bali, yang saat ini jika ingin mengunjunginya tak perlu keluar uang yang cukup banyak, atau juga ke Lombok, atau bahkan yang terdekat saja deh, ke Malang deh, kan ada Gunung Semeru, Bromo, Pulau Sempu, atau bahkan BNS (Batu Night Spectacular).

Tetapi, tak apalah mantanku beserta teman-temannya, atau bahkan seluruh orang-orang mempamerkan dan membanggakan perjalanannya ke luar negeri. Karena dengan bayangan itu, tekatku semakin bulat untuk memperjuangkan perjalanan ini. Aku akan membuktikan pada seluruh orang-orang yang mengenal atau minimal mengetahui perjalananku ini, bahwa Indonesia memiliki keindahan alam serta keunikan adat istiadat yang jauh lebih menarik dibandingkan dengan negara-negara lain, bahwa melakukan perjalanan ke tempat-tempat wisata di Indonesia tidaklah selalu lebih mahal dibandingkan melakukan perjalanan ke luar negeri, bahwa hingga ke pelosok negeri ini saja, Indonesia tetap mengagumkan dan bahkan jauh lebih aman, tidak seperti banyak orang mengatakan bahwa Indonesia tidaklah aman untuk melakukan perjalanan hingga ke pelosok-pelosok daerah, dan juga yang terpenting bahwa berwisata di Indonesia, tetaplah pantas untuk ditempatkan pada prioritas utama ketika hendak menyusun liburan.

maaf nih hasil kepoan di twitter di atas, nama akunnya difiktifin yah. hehehe

baca perjalanan sebelumnya https://notarisngetrip.wordpress.com/2013/09/20/berpacu-menuju-ujung-pulau-jawa/

Posted on October 3, 2013, in ARTIKEL OTENTIK and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: