PANTAI PANDAWA, PERSEMBAHAN DARI 5 PANDAWA Part I

Bukit Tempat Patung Para Pandawa Berdiri Dari Pantai Pandawa

Bukit Tempat Patung Para Pandawa Berdiri Dari Pantai Pandawa

Hahh…uda jam 11 siang?” Waduh kebiasaan bangun siangku belum juga hilang ternyata. Kebo. Ya panggilan itu memang pantas disematkan oleh mantanku karena aku yang sangat sulit untuk dibangunkan, hmmm… padahal aku sendiri tak pernah tahu, apakah binatang kerbau juga sulit untuk dibangunkan ketika sudah tertidur.
Tetapi, dari kekeboanku hari ini, aku masih memiliki satu alasan pembenar, dimana pada hari ini kami tidak sedang mengejar apa-apa, tidak mempunyai target yang hendak akan kami tuju. Ya, walaupun sebenarnya kekeboanku ini seharusnya tidak terjadi ketika aku sedang melakukan perjalanan seperti ini.
Akupun jadi teringat, saat dimana aku sedang merayakan malam pergantian tahun baru, sekitar dua tahun yang lalu, di Bandung, bersama-sama dengan keluargaku. Aku ingat bagaimana aku mencela ayahku dan abangku waktu mereka mengajakku berkunjung ke salah satu swalayan di Kota Bandung. “Masa, udah jauh-jauh ke Bandung belinya handuk sama kaus dalam sih? Gak kreatif banged deh, kayak di Jakarta gak ada yang jualan begituan aja. Beli apa kek gitu, selain handuk sama kaus dalam.
Lalu, kembali lagi pada kekeboanku yang masih muncul sampai di Pulau Bali, apa bedanya aku dengan ayah dan abangku yang pertama tersebut. Jauh-jauh ke daerah orang, tanpa mencari hal-hal yang dapat meninggalkan kesan yang dapat diingat.
Matahari sudah mulai menyengat hingga menerobos atap Suzuki Jimny, yang sedang dikemudikan temanku. Teman? Ya memang sih umur Pak David ini, berselisih kurang lebih 20 tahunan di atasku, dan akupun sudah memanggilnya dengan kata ‘Pak’, namun rasanya akan terjadi kesenjangan jika aku tetap memposisikannya sebagai bapak, ya lebih baik aku menganggap bapak satu anak ini sebagai teman, namun juga sebagai bapak, yang pantas untuk tetap dihormati.
Mobil inipun masih berjalan selangkah demi selangkah, bak seekor siput yang sedang berlomba lari. Bukan-bukan, mobil ini belum usang, lambatnya perjalanan kami ini disebabkan karena kemacetan. Memang sungguh tak mengherankan melihat Bali yang pada masa kini, sudah dihinggapi dengan permasalahan kemacetan. Selain jalan raya yang mereka miliki tidaklah terlalu besar, ditambah pula dengan volume kendaraan roda empat dan roda dua yang semakin membludak, menjadikan pulau ini sudah menjelma menjadi miniatur Jakarta.
Ya, semoga saja, sebelum permasalahan ini semakin membesar seperti yang dialami Kota Jakarta, atau minimal sebelum menjadi Surabaya ataupun Medan, pemerintah setempat sudah bertindak untuk menyelesaikan permasalahan kemacetan ini.
Nah itutuh Max, kebanggaan orang Bali sekarang.” Tunjuk Putu dengan penuh semangat, yang menunjuk pada sebuah underpass.
Yaelah Put, dikirain apaan, rupanya underpass doang.” Ujarku sembari menepok jidat. Bagaimana terbiasanya aku pada underpass yang entah berapa puluh underpass yang ada di Jakarta, malah saking biasanya warga DKI Jakarta dengan underpass, salah satu film lokal, membuat sebuah film horor tentang hantu di underpass, ya seakan-akan film ‘Terowongan Cassablanca’ menjadi sebuah upaya dari pemerintah, untuk memancing rasa bangga warga DKI Jakarta, akan mahakarya mereka berupa underpass atau terowongan yang sangat banyak itu.
Sayangnya, tak perlu berlama-lama aku menganggap remeh underpass yang baru digunakan sekitar setahun yang lalu tersebut. Aku sudah harus cepat-cepat menelan ludah sendiri dan terpana-pana akan kelebihan yang mungkin tidak dimiliki underpass-underpass yang ada di DKI Jakarta.
Memang dasar pulaunya para seniman, hingga terowongan yang berbahan dasar salah satunya dari beton itupun, masih sempat-sempatnya mereka ukir sedemikian rupa. Dinding-dinding underpass yang biasanya di Jakarta dipenuhi dengan mural-mural maupun tempelan-tempelan sedot wc, kredit motor, hingga jasa pembuatan skripsi maupun tesis dan disertasi tersebut, ternyata di Bali malah dibentuk-bentuk sedemikian rupa, hingga menambah kecantikan underpass ini.
Kok sampe sebegitu bangganya deh Put sama nih underpass, kan gak terlalu panjang-panjang banged deh ni underpass?” Tanyaku yang sedikit curiga dengan ekspresi bersemangatnya kawanku ini menunjuk underpass yang telah kami lewati tadi.
Yaa, gimana enggak bangga, nih underpass bisa jadi kayak gini ini, perlu debat-debat, demo-demo, marah-marah, sampe ricuh-ricuh deh, baru deh ni underpass selesai.” Ujar Putu yang dibarengi dengan tawa Pak David, sembari berbicara dengan bahasa Bali kepada Putu, yang tidak kumengerti sama sekali.
Hmmm… enggak usah dijelaskan oleh Putu pun, aku sudah mengerti apa yang diucapkan olehnya. Ahh… negeri ini, negeri yang sebenarnya indah nan rupawan ini, kenapa harus diisi oleh para kritikus-kritikus, yang ternyata dari kritikan yang mereka koar-koarkan, tidak ada satupun jalan keluar yang dapat mereka berikan. Misalkan seperti masalah kemacetan yang sedang dialami oleh Bali ini, aku rasa, kritikus-kritikus itulah yang menyuarakan ketidak setujuan akan pembangunan underpass ini, padahal mereka sendiri (baca=kritikus) sama sekali tidak mempunyai solusi yang konkrit atas permasalahan kemacetan yang semakin para di Pulau Dewata ini.
Sayang sekali, di atas negeri yang indah ini, terdapat kritikus-kritikus yang sedang memainkan dramanya menjadi seorang malaikat, padahal mereka tak ubahnya seperti iblis-iblis koruptor.
Ahh… sudahlah, mau diapakan lagi, ya seperti yang diujarkan Soe Hok Gie kepada Herman Lantang dalam film GIE, “politik tai kucing”. Jadi mau ngapain aku memikirkan tainya kucing, padahal kucingnya saja tidak pernah memikirkan tainya.

####

Ahh rasanya baru beberapa bulan yang lalu aku melewati jalan ini, padahal sudah hampir dua tahun yang lalu, aku dengan abangku yang nomor dua, bersama dengan istrinya yang sedang mengandung umur 3 bulan saat itu, serta adiknya kakak iparku tersebut dan dua orang temannya, melewati jalan sempit ini. Saat itu kami baru tiba di Pulau Dewata ini, dan hendak menuju Uluwatu, kemudian setelah dari Uluwatu, kami menikmati sunset di Pantai Padang-Padang, sehingga tak heran jika aku merasa tak asing dengan jalan ini. Tak banyak yang berubah memang dari jalanan ini, jalan aspal yang tetap saja halus, hanya beberapa lubang dan jalanan yang tidak rata saja yang sekali-sekali kami rasakan.
Pantai Pandawa.
Papan yang menuliskan arah pantai yang akan kami kunjungi tersebut, sudah sekitar 15 menitan yang lalu kami lewati, tapi mengapa sampai sekarang tidak terlalu banyak penginapan-penginapan yang kami temui, bahkan hanya segelintir bule yang berpapasan dengan mobil kami. Ahh… tak apalah, toh kalau kata dina duaransel, tersesat merupakan bagian dari perjalanan yang tak terduga.
Nahh., iya bener nih, ini jalan mau masuk Pantai Pandawa.” Jawabku yang kembali mengingat-ingat salah satu foto yang terdapat di mbah gugel. Jalan yang memecah perbukitan dan perbukitan yang dipecahpun tidak sembarang dipecah, istilahnya tidak yang lurus-lurus saja, namun berpundak-pundak. Akhirnya setelah hampir satu setengah jam perjalanan, akhirnya pantai yang kami cari-cari ini ketemu juga.
Yaa., bener ini jalan masuknya Pantai Pandawa.” Tegasku sekali lagi, dengan muka yang cukup senang, karena ini adalah pantai pertama dari sekian banyak pantai yang aku yakini akan terus menerus kujumpai hingga ke tanah Bima nanti, yang aku dan Andi akan kunjungi.
Setelah membayar retribusi sebesar Rp. 4.000,- per kepala, aku langsung mengamati jengkal demi jengkal perbukitan yang dibelah tersebut. Mungkin bagi beberapa orang tak terkecuali aku, ketika sebelum melakukan perjalanan ini, akan menganggap “biasa aja tuh”, jika melihat gambar-gambar yang terpampang di mbah gugel, toh ngapain harus jauh-jauh sampai ke Bali, kalau cuman untuk melihat jalanan yang membelah bukit tersebut. Jalan tol yang menuju ke Pelabuhan Merak pun, juga membelah perbukitan, bahkan jalan tol yang menuju Kota Bandung, tol Cipularang, konon katanya malah membelah gunung. Tapi yang aku temui saat ini dengan mata kepalaku sendiri sangatlah berbeda.
Aku memang tidak mengetahui bagaimana bentuk perbukitan yang dibelah ini, saat perbukitan ini belum dibelah dijadikan jalan akses menuju Pantai Pandawa, namun aku mengagumi satu hal akan bentuk dari perbukitan yang dibelah ini. Yaitu bentuknya yang menyerupai persawahan-persawahan yang ada di Bali, bentuknya yang berpundak-pundak tersebut, seakan tak ingin melepaskan ciri khas persawahan-persawahan yang ditanam oleh petani-petani asli Bali.
Kemudian tak perlu sampai 5 menit (jika tidak berhenti untuk berfoto, kita semua seakan-akan disambut oleh Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, 5 bersaudara yang menjadi sosok penting dalam kisah Mahabarata, atau yang lebih dikenal dengan Pandawa. Ukiran patung para Pandawa tersebut berjejer dengan tegap dan menjulang tinggi, seakan bersembunyi di balik tikungan menuju bibir pantai, dan seakan ingin memberi surprise kepada para wisatawan yang hendak berkunjung ke Pantai Pandawa ini.
Mobil yang kami kendaraipun berhenti sesaat, karena kami ingin mengabadikan kesurprise-an kami akan ke-5 bersaudara ini. Tak hanya kami, beberapa pengunjung yang kami tidak kenal, juga ikut berfoto-foto dan mengabadikan para Pandawa ini.
Aku sendiri memang tidak banyak mengetahui tentang kisah para Pandawa ini, hanya satu hal yang sempat aku baca di salah satu blog yang menceritakan tentang kelima bersaudara tersebut. Aku ingat pada satu moment, dimana kelima bersaudara tersebut melakukan perjalanan menuju Gunung Himalaya, yang katanya merupakan perjalanan terakhir mereka di muka bumi ini, dan merupakan salah satu bentuk pengasingan diri mereka.
Hingga satu persatu dari kelima bersaudara tersebut meninggal dunia, dan hanya tinggal menyisakan Yudistira seorang diri saja, yang mampu bertahan hingga tiba di puncak gunung. Sesampainya di puncak gunung tersebut, Yudistirapun dijemput oleh dewa, yang akan membawanya menuju surga, karena Yudistira dianggap telah mampu menyelesaikan test ini hingga akhir perjalanan. Namun sesampainya di surga, Yudistira malah tidak menemukan saudara-saudaranya yang lain, dan ternyata setelah diketahuinya, keempat saudaranya sudah ditempatkan di neraka.
Yudistira yang mengetahui saudara-saudaranya berada di neraka pun, meminta untuk dipindahkan saja ke neraka, karena dia ingin tetap setia menemani saudara-saudaranya yang lain. Namun lagi-lagi, ternyata berita tersebut, merupakan bagian dari test yang diberikan dewa kepada Yudistira atau yang saat ini diikenal dengan hoax, karena ternyata saudara-saudara Yudistira yang lainnya sudah berada di surga.
Rasanya sudah cukup aku untuk mengabadikan mahakarya seniman-seniman Bali itu, akupun penasaran dengan apa yang ada di bawah bukit ini, dan ternyata….
Mahakarya lain yang jauh lebih indah. Namun kali ini diciptakan oleh Tuhan, yang diberikan kepada ciptaannya.
Aku tertegun menahan ludah, ketika melihat pemandangan ini, hamparan laut yang ditambah dengan pemandangan rerumputan dan beberapa gubuk-gubuk rumah, lalu di tambah dengan putihnya Pantai Pandawa. Tidak sampai disitu saja, ketika aku menggeserkan sedikit kepalaku ke kanan, aku melihat sebuah bangunan yang seperti sebuah pura, menambah kesempurnaan pemandangan dari atas bukit ini. Pantas saja, jika para Pandawa tersebut, tetap betah pada tempatnya, karena mereka takkan pernah bosan untuk terus memandangi pemandangan menakjubkan yang ada di depannya ini.

Mahakarya Lain Dari Tuhan

Mahakarya Lain Dari Tuhan

bersambung

Posted on October 18, 2013, in ARTIKEL OTENTIK and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: