PANTAI PANDAWA, PERSEMBAHAN DARI 5 PANDAWA Part II

Nikmatnya Duduk Bersantai Sambil Menikmati Pasir Putih Di Pantai Pandawa

Nikmatnya Duduk Bersantai Sambil Menikmati Pasir Putih Di Pantai Pandawa

“hahaha.., hihihi., hohoho!!!”
“wahh., wihh., wohh!!!”
Walaupun belum genap 2 tahun pantai ini resmi dijadikan destinasi wisata di Pulau Bali, namun animo wisatawan baik domestik maupun mancanegara sudah cukup banyak yang mengunjungi Pantai Pandawa ini, Namun sayangnya satu hal yang masih kurang dari destinasi wisata yang baru ini ialah mengenai pemberitaannya. Hal ini terbukti sesaat sebelum perjalanan ini, yang Aku dan Andi lakukan. Ketika mencari-cari tahu tentang Pantai Pandawa ini, tidak terlalu banyak foto-foto maupun tulisan-tulisan yang menceritakan serta mengeksplor keindahan tempat ini.
Water sport seperti kano dan banana boat pun sudah tersaji di pantai ini, sayangnya, hingga saat ini, mata saya belum juga melihat water sport yang mengambil nama dari buah-buahan tersebut. Aku hanya melihat banana boat tersebut, tergeletak di ujung barat pantai. Ya, memang sih, akupun juga membayangkan sebenarnya lebih seru jika bermain kano, dibandingkan bermain banana boat. Selain karena durasi bermainnya yang lebih lama, juga tidak melibatkan banyak orang, karena dalam satu kano hanya dapat diisi oleh satu sampai dua orang saja, dan yang pasti, jika beramai-ramai, kita bisa balapan juga dengan teman-teman kita yang lainnya.
Tak hanya fasilitas water sport saja yang sudah disiapkan oleh pengelola Pantai Pandawa ini. Bagi wisatawan yang datang mengunjungi pantai ini hanya untuk menikmati semilir angin, sembari menikmati pemandangan indah pantai pasir putih yang terhampar memanjang ini, wisatawan hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp. 50.000,- saja, untuk dapat merebahkan badannya di atas kursi tidur yang dipayungi oleh payung yang cukup besar, yang dapat menghalangi sinar matahari bagi dua buah kursi. Tetapi jangan langsung mengatakan mahal yah, harga penyewaan kursi tidur tersebut, karena jika kita malas untuk mengeluarkan uang sebesar itu, kita bisa mendapatkannya dengan cuma-cuma, asalkan kita terlebih dahulu membeli es kelapa muda yang disajikan langsung dari batoknya, ataupun minuman serta makanan lainnya yang disediakan di warung-warung yang berada di dekat pantai, dan wisatawan pun tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang sebesar Rp. 50.000,- tersebut.
Ahh.., sepertinya nikmat sekali jika membayangkan diri ini merebahkan badannya di atas kursi-kursi tidur tersebut, sembari menikmati sebatok es kelapa muda, yang akan aku seruput nantinya langsung dari batok kelapanya, ditambah apalagi jika disebelahku terdapat pasanganku sendiri. Ahh.., moment yang sangat romantis sekali.
“Husss., husss., sadar., sadar!!! Pasangan-pasangan, pacar aja gak punya, uda main ngebayangin rebahan di kursi tidur yang disebelahnya ada pacar aja. SADAR WOII!!!” Yaampun, malaikat dalam otakku ini, sedikitpun tidak memberikan aku celah untuk berharap agar si Andi, berubah menjadi wanita idamanku.
Daripada aku terus menerus berkhayal yang tidak benar, akupun memilih untuk berkeliling sembari merasakan lembutnya pasir putih Pantai Pandawa ini. Sembari berjalan itupun aku melihat tong-tong sampah besar, yang berada di beberapa titik pantai, dan beberapa kali pula, aku melihat adanya kesadaran dari wisatawan-wisatawan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Andai saja, semua manusia khususnya di Indonesia ini memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, minimal saat sedang berada di tempat wisata alam, tak perduli apakah itu pantai maupun gunung ataupun wisata alam lainnya.
Berbicara mengenai kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, terutama pada destinasi-destinasi wisata alam, aku rasa tidak adil jika terus menerus menjadikan wisatawan sebagai kambing hitamnya dalam permasalahan yang makin lama semakin menggunung dampak yang ditimbulkannya. Pengelola baik itu swasta maupun pemerintah pun seharusnya pantas untuk dimintakan pertanggung jawaban. Beberapa kali pula aku melihat bagaimana kesadaran wisatawan tersebut, dijadikan kunci borgol dari pengelola untuk lepas dari tanggung jawabnya.
“Sampah ini disebabkan karena kesadaran wisatawan untuk membuang sampah pada tempatnya yang masih kurang.” Kata-kata tersebut terus menerus diucapkan pengelola untuk lepas dari rasa bersalahnya. Lah bagaimana mau membuang sampah pada tempatnya, wong tempat untuk membuang sampahnya saja tidak ada, jadi bagaimana mau membuang sampah pada tempatnya.
Jawaban dari wisatawan inipun, seakan menjadi gol balasan kepada pengelola, dan terus menerus akan berlanjut, hingga pada akhirnya alam pun menjadi lelah untuk menunggu bunyi peluit tanda usainya perdebatan antara wisatawan dengan pengelola. Seperti apa yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara dan Nugie.

“Jika sang bumi bisa bicara
kutau ia akan bertanya
sampai kapan kah kau hanya terima tanpa pernah memberi

Kini saatnya untuk berbuat
memberi apa yang dia butuhkan
tanah air udara kan bersuka
hidup harmoni tetap terjaga.”
(Jika Bumi Bisa Bicara)

Di sela-sela dudukku di atas pasir putih Pantai Pandawa ini, aku berfikir, rasanya cukup sudah kita silih berganti menuduh pihak-pihak yang pantas untuk disalahkan, karena semua pihak memang berada pada pihak yang salah. Aku rasa kini saatnya, kita saling mendukung, kita semua para wisatawan, mulai menyadarkan diri untuk menjaga alam ini, khususnya tempat-tempat yang kita kunjungi, minimal membuang sampah pada tempatnya. Kemudian pengelola baik itu swasta maupun pemerintah, juga harus mengakomodir kesadaran wisatawan yang sudah sudi untuk menjaga tempat-tempat wisata yang mereka kunjungi. Hingga kelak, kita akan membalas apa-apa yang telah diberikan alam ini kepada kita semua, dan para Pandawa yang berada di atas bukit inipun bisa tenang, untuk menikmati keindahan alam yang ada di Pantai Pandawa ini, tanpa harus diselimuti ketakutan akan kehancuran alam di tempat ini.

bermain kano ataupun cukup berjalan dengan tanpa alas kaki begitu menyenangkan

bermain kano ataupun cukup berjalan dengan tanpa alas kaki begitu menyenangkan

baca sebelumnya https://notarisngetrip.wordpress.com/2013/10/18/pantai-pandawa-persembahan-dari-5-pandawa/

Posted on October 22, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: